Truk Trailer Disopiri Kernet
Korban Tewas 54
SITUBONDO- Dalam kecelakaan maut di jalan tanjakan dekat PLTG Paiton yang menimpa bus AO Transport, truk trailer, dan colt diesel yang menewaskan 54 siswi dan siswa, dua guru SMK Yapemda I Sleman, serta seorang pemandu wisata pada Rabu (8/10) pukul 20.00 lalu, seharusnya bisa dihindari kejatuhan korban dalam jumlah besar.
Sayang, pintu dan jendela bus tidak bisa dibuka, sementara di dalam bus tidak tersedia alat pemecah kaca. Padahal dalam kondisi bus terbakar, tidak ada pilihan lain kecuali keluar secara paksa dengan memecah kaca.
Sumber di tempat kejadian menyebutkan, kebanyakan korban meninggal berada di bagian belakang bus. Artinya, kemungkinan mereka berusaha menyelamatkan diri melalui pintu belakang dengan harapan sebagai satu-satunya jalan keluar. Namun karena bagian belakang bus pun ditabrak colt diesel L-3974-CC yang keberadaan pengemudinya hingga kini masih dalam pencarian polisi, pintu bus pun macet.
Akibat terperangkap dalam bus itu, semua penumpang tidak bisa menyelamatkan diri, kecuali kernet dan sopir bus. "Jumlah korban yang meninggal sudah pasti 54 orang, terdiri atas 51 siswi dan siswa, dua guru, dan satu pemandu wisata. Adapun korban luka hanya satu, yakni Budi, kernet bus AO Transport," papar Kapolda Jatim Irjen Pol Heru Susanto seusai meninjau korban di kamar jenazah RSUD Situbondo.
Sementara itu, dari hasil penelitian tim Puslabfor Mabes Polri bekerja sama dengan Dirlantas Polda Jatim dan DLLAJ Jatim, diketahui kebakaran terjadi karena tangki truk tronton pecah. Bahan bakar yang muncrat keluar tangki, kemudian tersulut percikan api yang keluar akibat benturan trailer dan merembet ke badan bus.
Mengutip laporan tim Labfor Polda Jatim, tangki trailer pecah dan menyambar percikan api sehingga membuat kebakaran sulit dihindarkan. Kapolda belum bisa memastikan penyebabnya, karena masih menunggu temuan dari tim Labfor.
Mudahnya kebakaran merembet, karena di dalam bus ada bahan-bahan yang mudah terbakar seperti karpet yang terpasang di atas tempat duduk, sekaligus tempat bagasi tas. Akibatnya, api cepat sekali merambat ke dalam bus. Sementara itu, para penumpang terperangkap tidak bisa keluar sama sekali.
Pengemudi bus AO Transport, Armandu, bisa selamat dan hanya mengalami luka-luka karena melompat.
Adapun Budi, kernet bus, dengan memecah kaca depan dapat selamat, meski dia mengalami luka bakar di sekujur tubuhnya. Kemungkinan, Budi akan dirujuk ke RS Dokter Sutomo Surabaya, sekalipun dia sudah mendapat perawatan intensif di RSUD Dokter Subandi Situbondo.
Sudah Diderek
Hingga siang kemarin, tiga bangkai kendaraan sudah diderek untuk dipindahkan ke tepi jalan agar tidak mengganggu arus lalu lintas dari dan ke arah Banyuwangi, walau masih tampak asap mengepul di bangkai bus AO Transport. Konsentrasi jajaran Polda Jatim masih pada identifikasi korban, belum melangkah pada pemeriksaan siapa yang salah dalam kasus tabrakan itu
Sementara itu, di ruang mayat RSUD Situbondo masih terbujur puluhan siswa dan guru yang meninggal. Dokter masih terus mengidentifikasi. Hingga pukul 21.30 kemarin, baru enam yang dapat diidentifikasi.
Diperoleh informasi, rombongan keluarga korban juga sudah sampai di RSUD Situbondo. Keterangan yang dapat dihimpun dari Posko Identifikasi Korban Musibah Massal (Deserver Victim Identification/DFI), lebih kurang pukul 11.30 sudah tiba di Madiun dan rombongan kedua baru berangkat dari Sleman pukul 12.00.
Nanang Priyambodo, salah satu petugas di rumah sakit itu, menuturkan, Rabu malam ada beberapa korban yang dibawa ke Puskesmas Besuki. Namun karena kondisinya gawat, lalu dibawa ke RSUD Situbondo yang berjarak sekitar 45 km timur lokasi kejadian di Paiton dekat tanjakan PLTG Paiton yang berada di perbatasan Situbondo-Probolinggo. Tempat kejadian itu berada di wilayah Polwil Besuki.
Dirlantas Polda Jatim Kombes Pol Andjar Triaji menyatakan, sopir trailer milik PT Bhirawa Tunggal Rono bernama Khozim, pada pukul 14.00 kemarin sudah menyerahkan diri. Sementara itu kernetnya, Syafii, sudah ditangkap. Pada saat kejadian, kendali truk trailer diserahkan dari Khozim kepada Syafii.
Keduanya hingga semalam masih diperiksa intensif di Mapolres Situbondo. Sebelumnya mereka didatangkan dari Surabaya dan sampi di Situbondo pukul 20.00.
Lokasi kejadian memang masih jauh dari keramaian dan permukiman. Lokasi permukiman ada sekitar 500 meter dari puncak jalan. Di sana banyak berdiri warung yang biasa dimanfaatkan untuk tempat istirahat bagi kendaraan yang melakukan perjalanan dari barat ke timur.
Dengan adanya kejadian itu, beberapa pemilik warung menutup sementara warungnya karena mengaku ngeri. Apalagi di kanan tempat kejadian adalah bukit dan tanaman liar yang sangat sepi.
Dari lokasi kejadian tampak sekali bahwa jalannya trailer L- 8493-F melebihi marka jalan, apalagi dalam kondisi jalan menurun.
Kecelakaan di jalur pantura, tepatnya di Banyuglugur, 15 km barat Situbondo atau 3 km timur PLTG Paiton itu menimbulkan bunyi benturan yang sangat keras. Kondisi bus AO Transport yang sebelumnya menyalip colt boks L-8493-B sebenarnya berada pada posisi yang benar.
Namun bagian kanan bus hancur, karena dihantam trailer yang diduga memaksa membanting kemudinya ke kanan untuk menghindari gundukan pasir di kiri.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun dari Polres Situbondo, begitu terjadi tabrakan dari bus terlihat ada percikan api. Kemudian ditambah bus itu ditabrak dari belakang oleh colt diesel L-3974-DC, sehingga bus langsung terbakar.
Sopir Cadangan
Kecelakaan itu sulit dihindari, diduga akibat bus dikemudikan oleh sopir cadangan. Sebab, menurut humas perusahaan bus AO Transport (diambil dari nama pemilik "A"de Lina "O"ni) Sehati Mitra, U'ut, pengemudi bus adalah Armando (40). Adapun Budi hanya sopir cadangan merangkap pembantu pengemudi (kernet).
Padahal, seperti diberitakan Suara Merdeka kemarin (9/10), ketika kecelakaan terjadi bus dengan Nopol AB-2602-CA (bukan CO) dikemudikan oleh Budi. Namun berdasar keterangan yang diperolehnya dari tempat kejadian, U'ut menolak pernyataan bahwa sopirnya melarikan diri setelah kejadian. "Justru sopir kami ikut berusaha membantu mengeluarkan penumpang," ujarnya ketika ditemui di kantornya di Jalan Nagan Lor, Yogyakarta.
Tentang Armando, dia mengungkapkan, selama ini dikenal sebagai sopir andal di perusahaan itu. Sebagai pengemudi bus pariwisata, Armando sudah sangat berpengalaman melayani penumpang ke berbagai rute dan taat aturan lalu lintas. Perusahaan otobus itu memiliki 20-an pengemudi.
Bus nahas merek Mercedes Benz dengan 54 tempat duduk buatan 1998 yang digunakan perusahaan itu, sejak pembelian pertama dilengkapi VCD, AC, dan toilet. Rombongan siswi SMK Yapemda I Sleman menggunakan dua bus besar dan satu mikrobus. Bus nahas itu, lanjut U'ut, mengunakan pintu manual. "Tidak benar kalau ada yang mengatakan, pintu bus hanya bisa dibuka dan ditutup dengan tenaga hydraulic."
Tentang kemungkinan penumpang tidak bisa keluar karena pintu tidak bisa dibuka, diduga karena pintu dalam keadaan rusak akibat tabrakan. Pintu depan rusak lantaran ditabrak truk trailer. Adapun pintu belakang rusak, akibat ditabrak colt diesel. Jadi, sambungnya, terlepas dari kepanikan penumpang, andai tidak rusak akibat ditabrak, diyakini sebetulnya pintu tetap bisa dibuka.
Evakuasi
Sementara itu, untuk mengevakuasi korban dibutuhkan lima jam lebih. Sebab, rata-rata badan korban terjepit di antara kursi dan kondisi fisiknya gosong akibat terbakar. Tak jarang di antara para korban itu ada bagian tubuhnya yang tak utuh lagi karena terbakar. "Baru lebih kurang pukul 02.00 dini hari kemarin, semua korban dapat dievakuasi dari badan bus," kata seorang polisi di tempat kejadian kepada Suara Merdeka.
Selama proses evakuasi berlangsung, jalur Probolinggo-Banyuwangi dan sebaliknya yang melewati Situbondo dialihkan ke jalur selatan. Truk, bus, dan kendaraan pribadi lain dialihkan lewat jalur Lumajang dan Jember. "Macetnya luar biasa, Mas," ujar polisi yang lain.
Hingga pukul 21.00 kemarin, baru 10 keluarga korban yang datang ke RSUD Situbondo. Tujuannya, untuk menanyakan anggota keluarganya yang dikabarkan tewas akibat kecelakaan maut di perbatasan Probolinggo-Situbondo tersebut.
Di antara keluarga korban yang melapor adalah Edy Sudiono, kakak kandung korban Edy Gemplo, pemandu wisata. Selain itu, ada seorang perempuan bernama Nining, yang mengaku keluarga korban Yuli Puspitasari, salah seorang korban tewas. Seorang lagi keluarga korban Tri Astuti. "Memang, tadi ada keluarga korban Tri Astuti yang mencari ke sini. Karena korban belum diidentifikasi, dibutuhkan tempo yang cukup untuk mengecek dan mengidentifikasi masing-masing identitas korban," papar seorang petugas di RSUD Situbondo.
Selain korban meninggal 54 orang, ada satu korban yang telah kembali ke rumahnya di Desa Ngemplak, Kabupaten Sleman Yogyakarta. Namanya Siti Nurhidayati.
Sementara itu, kondisi ke-54 mayat korban sampai kemarin tetap berada di RSUD Situbondo. Belum ada keluarga korban yang mengambil. Mayat-mayat tersebut kondisi fisiknya sangat mengenaskan. Rata-rata badannya gosong, ada bagian tubuhnya hilang atau terpisah dan sulit dikenali. Untuk mengawetkan mayat-mayat tersebut, manajemen RSUD Situbondo mendatangkan ratusan es balok. Tujuannya agar mayat tak cepat membusuk.
Berdasarkan pengamatan di kamar mayat RSUD Situbondo kemarin, mengingat kondisi fisik kamar mayat di rumah sakit itu tak terlalu besar, di antara mayat-mayat yang telah dikenali langsung dibungkus dengan kertas plastik pembungkus mayat.
Lalu ditempatkan di jalan yang menuju ke ruang kamar mayat sambil disekat-sekat dengan es balok. Tak ada fasilitas colt storage untuk mengawetkan mayat sebagaimana dilakukan RSUP Sangla ketika menangani korban peledakan bom di Bali pada 12 Oktober 2002 lalu.
Ribuan warga Situbondo berduyun-duyun mendatangi ke kamar mayat. Tujuannya, melihat langsung kondisi fisik mayat korban kecelakaan maut tersebut. "Kasihan benar mereka, ya. Habis berdarmawisata ke Bali, kok akhirnya seperti ini. Bagaimana nanti bila keluarganya tahu?" ungkap seorang ibu.
Ungkapan dengan nada keprihatinan, selain datang dari pejabat dan warga Situbondo, juga datang dari para siswa-siswi di beberapa sekolah di Situbondo. Di pelataran RSUD kemarin, tampak ada karangan duka cita dari SMU I, SMU II, dan SMK I Situbondo.
Kapolda Jatim Irjen Pol Drs Heru Susanto mengatakan, hingga kemarin dia belum berani memutuskan siapa yang menjadi tersangka dalam kecelakaan maut di perbatasan Probolinggo dan Situbondo ini.
"Kami tak bisa menetapkan tersangka secepat itu. Kami sekarang lagi meminta keterangan saksi sebanyak-banyaknya," ujar Irjen Heru.
Yang jelas, ungkapnya, bukan perkara mudah bagi polisi untuk mengenali dan mengidentifikasi 54 korban meninggal. Sebab, sebagian besar kondisi fisik korban telah jadi arang, sidik jarinya tak ada, dan pakaian yang menempel di tubuhnya tak bisa dikenali lagi. "Namun, polisi tak patah semangat untuk mengidentifikasi para korban. Sampai kapan identifikasi itu berlangsung, tak ada batas temponya," tegas Heru Susanto.(Tim SM-64j)
Korban Meninggal Dunia
A. Siswi/Siswi Alamat :
1. Aminta Berbah, Kalitirto, Kalasan, Kabupaten Sleman
2. Ari Susanti Kalasan, Tirtomartani, Kalasan, Sleman
3. Arifah Febriana Ngajek, Purwomartani, Kalasan, Sleman
4. Cornia Pujiningwati Tegalkopen, Banguntapan, Kabupaten Bantul
5. Diah Prihatin Handayani Dadapan, Kalitirto, Berbah Sleman
6. Dwi Wahyuni Gedang, Sambirejo, Prambanan, Sleman
7. Evi Kurniawati -
8. Giyanti Jatisari, Gayamharjo, Prambanan, Sleman
9. Harti Sengon, Prambanan, kabupaten Klaten
10. Ika Susilowati Somodaran, Purwomartani, Kalasan
11. Lanjar Jetak, Kalitirto, Berbah, Sleman
12. Nita Tri Handayani Segaran, Tirtomartani, Kalasan, Sleman
13. Novika Rahmawati Tawang, Tirtomartani, Kalasan, Sleman
14. Nuri Lestari Tlogowano, Tegaltirto, Berbah, Sleman
15. Parniati Brojogaten, Baturetno, Banguntapan, Bantul
16. Ria Yuliana Grogol, Maguwaharjo, Depok, Sleman
17. Rina Dalyanti Porongan, Gayamharjo, Prambanan
18. Riyati Sidokarto, Purwomartani, Kalasan
19. Ruli Rubiyanti Karang, Tirtomartani, Kalasan, Sleman
20. Septi Mariyam Trukan, Demangan, Madurejo, Pambanan, Sleman
21. Siti Nurhidayati Lempu, Wedomartani, Ngemplak, Sleman
22. Siti Prihatin Gebang Katikan, Gantiwarno, Klaten
23. Sri Pamularsih Ngentak, Baturetno, Banguntapan, Bantul
24. Sri Parwati Gowo Kotesan, Prambanan, Klaten
25. Sugiyem Gebang Kotekan, Gantiwarno, Klaten
26. Tri Astuti Jetak, Tirto Martani Kalasan
27. Umiasih Karanggayam, Sitimulyo, Piyungan
28. Vira Widiyanti Jagalan, Tegaltirto, Berbah, Sleman
29. Wiji Astuti Kuton, Tegaltirto, Kalasan, Sleman
30. Yuli Puspitasari Kepatihan, Tamanmartani, Sleman
31. Bambang Sapto Kebonan, Kalitirto, Berbah, Sleman
32. Gustian Riyanto Dalem Tamanmartani, Kalasan, Sleman
33. Ani Isnawati Melikan, Sumberharjo, Prambanan, Sleman
34. Asti Rumayuni Sambisari, Purwomartani, Kalasan, Sleman
35. Bekti Puspitosari Dadapan, Kalitirto, Berbah, Sleman
36. Dina Maryani Nggolakan, Randusari, Prambanan, Klaten
37. Dwi Astuti Tundan, Purwomartani, Kalasan, Sleman
38. Eni Astuti Nglengkong, Sambirejo, Prambanan, Sleman
39. Esti Munawaroh Kenteng, Madurejo, Prambanan, Sleman
40. Feri Yuni Astuti Kuton, Tegaltirto, Berbah, Sleman
41. Fitri Nurhayati Ngijo, Srimulyo, Piyungan, Bantul
42. Istanti Kenteng, Madurejo, Prambanan, Sleman
43. Luluk Gutuyani Sumber Lor, kalitirto, berbah, Sleman
44. Nuryani Tlogo Kidul, Tlogo, Prambanan, Klaten
45. Siti Latfah Yaroh Trukan, Bercak, Jogotirto, Berbah, Sleman
46. Sri Lestari Tamanan, Tamanmartani, Klasan, Sleman
47. Sri Utami Banyakan, Sitimulyo, Piyungan, Bantul
48. Sumarni Ngaren Payak Tengah, Sitimulyo, Piyungan, Bantul
49. Titik Suprapti Gandu Kranggan, Manisrenggo, Klaten
50. Tri Maryani Karang, Taskombang, Manisrenggo, Klaten
51. Vita Purwanti Jomblang, Tegaltirto, Berbah, Sleman
B. Guru:
1. Drs Zubaidi Kebondalem Kidul, Prambanan, Klaten
2. Tulus Eklas BSc Kalitirto, Berbah, Sleman
C. Pemandu Wisata:
1. Sentot Waluyohadi Gang Guru, perumahan UNY Kr Malang, Sleman alias Adi Gemplo
Catatan:
1. Sumber daftar dari SMK Yapemda Sleman
2. Nomor urut 21 semula Siti Nurhayati yang sebetulnya naik bus lain.
Sedangkan di bus naas adalah korban Siti Nurhidayati.
![]() |
| SUASANA HARU:Kedatangan 54 jenazah yang diangkut mobil ambulans di lapangan olahraga SMK I Yapemda, Berbah, Kabupaten Sleman, kemarin sekitar pukul 04.45 disambut ribuan pelayat dalam suasana haru. (55) |
54 Jenazah Langsung Dimakamkan
Dilepas dengan Jerit Tangis
SLEMAN-Suasana haru, isak-tangis, jeritan histeris, sampai puluhan orang pingsan mengiringi kedatangan mobil ambulans yang membawa 54 jenazah korban kecelakaan lalu lintas di sekitar PLTU Paiton, Situbondo. Dalam balutan kabut tipis dan dinginnya pagi pukul 04.45 di lapangan olahraga SMK I Yapemda, Berbah, Kabupaten Sleman, itu suara tahlil pun bergema syahdu, sungguh menyayat hati.
Ribuan pelayat yang memadati lapangan itu tak kuasa menahan haru. Maka hampir serentak, suara tangis pecah berbaur dengan alunan tahlil. Tak lama setelah itu, puluhan siswi penjemput mendadak limbung dan pingsan.
Kejadian serupa juga terjadi tak lama setelah iring-iringan 54 mobil ambulans yang mengangkut jenazah korban meninggalkan lapangan Tanjung Tirto, Berbah, Sleman, setelah dishalatkan. Sebelumnya petugas langsung menempelkan foto korban pada setiap mobil ambulans. Peti jenazah tidak diturunkan dari ambulans, karena akan langsung diantarkan menuju rumah duka masing-masing.
Jenazah kemudian langsung diberangkatkan menuju rumah duka. Sebagian siswi menangis tersedu-sedu sambil memanggil-manggil nama rekannya yang menjadi korban.
Selain meratapi kepergian rekannya, ada pula siswi, Nur Alimah, yang menjerit-jerit memanggil nama guru agama, Zubaidi, yang ikut menjadi korban saat mendampingi siswi SMK Yapemda I melakukan studi banding ke Bali. Zubaidi adalah wali kelas 3 Akuntansi 1 SMK Yapemda I.
Para siswi yang pingsan kemudian mendapatkan perawatan dari tim medis Puskesmas Berbah di posko kesehatan yang dibangun di aula balai desa setempat. Sementara beberapa siswi lain yang juga tak kuasa menahan haru, berusaha menyadarkan rekannya yang pingsan.
Beberapa anggota tim medis tampak sibuk memberi pertolongan dengan menggunakan alat bantu oksigen dan peralatan medis lain. Sementara itu, puluhan warga setempat juga sibuk membantu para petugas medis.
Kedatangan jenazah korban diangkut dengan menggunakan 54 mobil ambulans, sedangkan keluarga korban diangkut dengan 3 bus pariwisata. Masih ditambah mobil pribadi yang jumlahnya mencapai puluhan kendaraan. Banyaknya kendaraan yang mengangkut rombongan Tragedi Paiton itu, membuat antrean sepanjang 3 kilometer.
Rombongan tiba di Yogyakarta itu diterima langsung Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, disaksikan langsung Menteri Sosial (Mensos) Bachtiar Chamsjah, Dirjen Dikdasmen Dr Indrajati Sidiq, Bupati Sleman Drs Ibnu Subiyanto Akt, dan pejabat instansi terkait lain.
Rombongan yang membawa 54 jenazah beserta keluarga korban dipimpin Sekda DIY Ir Bambang SP MPH. Sebelum prosesi serah terima jenazah, dilakukan salat jenazah yang dipimpin Drs Mufti Abu Yasid. Setelah itu, dilanjutkan upacara serah terima dari Sekda DIY kepada Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Upacara serah terima jenazah berlangsung lancar, meski diiringi isak tangis dari keluarga korban dan para takziah lainnya. Usai prosesi itu, seluruh jenazah langsung dibawa pulang ke rumah duka masing-masing. Sebagian besar setelah disemayamkan sejenak, jenazah langsung dimakamkan ke peristirahatan terakhir yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Beberapa jam sebelum kedatangan jenazah, memang sempat muncul ketidakpastian mengenai jam kedatangan rombongan dari Situbondo. Sebelumnya rombongan diperkirakan tiba di SMK I Yapemda pukul 03.00 WIB. Namun, karena sambutan masyarakat di sepanjang jalan mulai Situbondo hingga Yogyakarta cukup antusias, rombongan tiba di Kota Pelajar terlambat hampir dua jam lebih.
Meski terlambat, ribuan orang yang takziah tetap setia dan sabar menunggu kedatangan rombongan, walau harus tidur di atas rumput lapangan. Sementara masyarakat yang masih mampu menahan rasa kantuk tidak henti-hentinya melantunkan tahlil menyambut kedatangan rombongan.
Alunan doa yang meluncur tulus dari masyarakat itu sampai membuat bulu kuduk merinding. Tahlil yang dilantunkan ribuan takziah mengalun lembut hingga menghilangkan rasa kantuk dan mampu mengusir udara pagi yang sangat dingin.
Suasana demikian makin membuat ribuan orang tak mampu menahan kesedihan mendalam. Begitu menemukan mobil jenazah yang membawa anak maupun saudaranya, keluarga korban langsung menangis histeris. Yang lebih tragis, ketika keluarga korban maupun saudaranya langsung ingin memasuki mobil jenazah. Namun oleh petugas medis tidak diperbolehkan, karena semua peti jenazah sudah ditutup rapat dengan dibungkus kain mori putih.
Keluarga korban hanya diperbolehkan melihat peti jenazah dari luar jendela mobil. Keluarga korban yang tidak mampu menahan rasa sedih, langsung teriak histeris. Sebaliknya, mereka yang kuat menahan rasa duka, hanya diam sambil matanya memandang peti jenazah yang ada di dalam mobil.
Tetapi tidak sedikit keluarga korban yang langsung histeris dan pingsan. Suasana demikian ini membuat petugas medis maupun tenaga sukarelawan dari PMI Kabupaten Sleman kalang-kabut.
Belum Teridentifikasi
Dari 54 korban Tragedi Paiton yang bisa diidentifikasi sebanyak 40 orang, sementara 14 korban lainnya belum bisa diidentifikasi. Meski tidak bisa diidentifikasi, tetapi tim medis berhasil mengambil sedikit bagian tubuh korban sebagai bahan uji DNA. Jika uji DNA itu telah selesai, diharapkan mampu menguak identitas 14 korban tersebut.
"Uji DNA ini diupayakan secepatnya selesai. Pihak kepolisian sudah menyanggupi akan menanggung sebagian besar biaya uji itu yang memang sangat mahal. Kami Pemda DIY siap membantu biaya transportasi ke Surabaya, apabila keluarga korban meminta," kata Bambang SP.
Jenazah yang belum teridentifikasi itu tidak akan dimakamkan secara massal, tetapi tetap dibawa pulang keluarga masing-masing. "Mereka telah sepakat untuk tetap membawa jenazah pulang dan tidak dikuburkan massal, tapi akan dikuburkan ke makam keluarga masing-masing," kata Sri Sultan.
Sultan menjanjikan akan membantu pembiayaan untuk melakukan tes DNA selanjutnya sehingga korban dapat dikenali. Bila dari tes itu diketahui identitas masing-masing korban, keluarga siap melakukan tukar informasi.
Sementara itu, Mensos Bachtiar Chamsyah berjanji akan memberikan bantuan Rp 3 juta kepada masing-masing korban kecelakaan maut Situbondo. "Bantuan akan diserahkan kepada Bupati Sleman. Saya harap uang ditransfer Senin (13/10) dan diserahkan ke keluarga korban," ujar Mensos.
Tak Percaya
Sementara itu, kecelakaan maut di Situbondo itu masih menyisakan sebuah cerita pilu. Riyanti (16) harus kehilangan saudara kembarnya dalam peristiwa tragis itu. Namun kepergian saudaranya yang begitu cepat itu masih belum dipercayainya.
"Saya belum percaya saudara kembar saya itu pergi dengan cepat seperti ini," kata Riyanti kepada wartawan seusai pemakaman saudara kembarnya, Riyati, di Dusun Sidokerto, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Sabtu (11/10).
Anak pasangan Sarjiyo dan Sariyem itu dilahirkan pada 2 Juli 1987. Selama 16 tahun, dua anak kembar itu selalu bersama-sama. Tak hanya tidur yang harus bersama, pergi ke sekolah menggunakan sepeda motor, bermain atau jalan-jalan pun selalu berdua.
Meski saat studi tur di Bali, Riyanti dan Riyati tidak berada dalam satu bus. Riyanti di bus nomor 1, sedangkan kakaknya Riyati di bus nomor 2.
Namun, ketika menginap di hotel, mereka tidur sekamar. Bahkan, saat mengunjungi berbagai tempat wisata dan kegiatan industri selalu berdua. "Saya selalu berdua selama di Bali, bahkan mau belanja pun juga kesepakatan berdua," katanya.
Dalam kenangan Riyanti, kakaknya, Mbak Yani, panggilan akrab di rumah, adalah orang yang rajin belajar, pendiam, penurut, dan selalu juara di kelasnya. Selama di Bali, dia juga tampak ceria dan ingin membeli banyak oleh-oleh.
Selama studi tur di Bali, mereka berdua diberi uang saku ibunya Rp 250.000. Ketika belanja, kakaknya sempat meminta dibelikan sebuah jaket, tetapi jaket yang diinginkan ternyata tidak ada. Bahkan, sisa uang saku Riyanti Rp 70.000 juga diberikan semua kepada kakaknya. "Dan uang itu juga tak jadi untuk beli oleh-oleh," katanya.
Menurut Sarjiyo, kedua anaknya itu susah dibedakan kalau dilihat sepintas saja. Baik gaya bicara, tingkah laku, maupun postur tubuhnya mirip sekali. Hanya tahi lalat sebagai tanda yang membedakan mereka berdua. Riyanti mempunyai tahi lalat di pipi kirinya, sedangkan kakaknya mempunyai tahi lalat di bagian leher.
Sementara itu, pemakaman salah satu korban musibah Situbondo lainnya, Rina Dalyanti, hanya diikuti kerabat dan tetangga sekitar. Sementara orang tuanya, Parno Wagiranto dan Ny Painem, tak ikut karena masih shock atas musibah yang menimpa anaknya.
Bahkan, ketika jenazah Rina Dalyanti warga Dusun Parangan, Desa Gayamharjo, Prambanan, Sleman, tiba di rumah duka, Ny Painem menangis histeris dan pingsan. Dari rumah duka, jenazah hanya disemayamkan sekitar setengan jam, selanjutnya langsung dimakamkan di tempat pemakaman umum Dusun Kanthangan, Sumberharjo, Prambanan.
TPU itu terletak di sebuah lereng pegunungan tandus, yaitu Gunung Klumprit yang hanya ditanami pohon jati. Jenazah Rina pun disemayamkan berdampingan dengan makam almarhumah neneknya.
Dari rumah duka menuju pemakaman itu kira-kira 6 km. Saat itu jenazah dibawa dengan mobil ambulans dan diiringi sekitar 30-an pelayat. Ketika tiba, jenazah langsung dimasukkan ke liang lahat yang telah dipersiapkan sehari sebelumnya oleh para warga, dan peti langsung dimasukkan tanpa terlebih dahulu dibuka.
Menurut paman almarhum bernama Suparman, keponakannya merupakan anak pendiam dan terbilang rajin. Dia anak ketiga dari lima bersaudara dan merupakan anak kesayangan ibunya. "Sehingga tidak mengherankan bila keluarganya sangat terpukul," jelas Suparman sembari menjelaskan selama hidupnya Rina bersekolah menggunakan sepeda sejauh 15 km dari rumahnya. (sgt,jo,dtc-64t)
14 Korban Belum Teridentifikasi
Ari Susanti, Evi Kurniawati, Ika Susilowati, Lanjar, Riyati, Ruli Rubianti, Umiasih, Muji Astutik, Esti Munawaroh, Feri Yuniastuti, Nuriyani, Sri Lestari, Titik Suprapti dan Ria Yuliana.
Semoga arwah dan amal ibadahnya di terima di sisi Allah . Amin-Amin Yarobal Alamin.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan berkomentar disini. . .